background
anda disini: HOME > KLINIK > AVASIN

AVASIN

Apakah yang Dimaksud dengan Terapi Avasin itu ?
Pada awalnya Terapi Avasin disebut Awaasin Alkay, yang berasal dari bahasa Arab; Awaasin dan Alkay. Awaasin berarti seperangkat instrumen (asal kata ausun: instrumen, bentuk jamaknya: awaasin), sedangkan Alkay berarti pencapan dengan api. Metode pengobatan alkay sudah dikenal berabad-abad lamanya sejak zaman peradaban Mesir Kuno dan Babilonia, termasuk pada zaman Rasulullah SAW. Metode ini dikenal sebagai Alkay Lama. Pada abad 16 M, para ilmuwan Muslim, di antaranya Ahmad Ibnu Ruman, menyempurnakan metode pengobatan Alkay lama, yakni menggantikan api untuk pemanas instrumen dengan obat-obatan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Awaasin Alkay. Jejak Alkay Lama yang masih digunakan kedokteran modern saat ini adalah metode Kauterisasi.

Di Indonesia, metode pengobatan Awaasin Alkay pertama kali dikembangkan oleh Ma'had Atthib al Islami di bawah Yayasan Asy Syifa (1959-1966). Pada tahun 1987, Ma'had Atthib al Islami dihidupkan lagi di bawah naungan Yayasan Ibnu Ruman. Pada tahun 2000, dokter-dokter yang tergabung dalam IDAVI (Ikatan Dokter Avasinolog) memperkaya dan memodifikasi metode pengobatan Awaasin Alkay dan menamakan metode pengobatan tersebut Terapi Avasin. Ahlinya disebut Avasinolog. Terapi Avasin merupakan metode pengobatan Awaasin Alkay yang dimodifikasi dalam mengisi ruang kosong metode pengobatan kedokteran biomedik modern, sehingga Terapi Avasin bukan merupakan metode pengobatan alternatif, tetapi merupakan metode Kedokteran Komplementer.

Banyak teori dasar biomedik yang menguatkan efektifitas metode Terapi Avasin ini, sehingga bisa meningkatkan tingkat efektifitas dan efisiensi pengobatan tanpa harus melakukan langkah invasif (Non-Invasive Medical Care) dan dengan efek samping sangat minimal.

Terapi Avasin saat ini hanya dipraktekkan oleh dokter yang telah memiliki lisensi sebagai avasinolog, sehingga ketepatan analisis penyakit (diagnosa) dan penatalaksanaannya (therapy) dapat dipertanggung jawabkan dalam konteks kedokteran biomedik.

2